-->

Thursday, October 27, 2016

Ternyata WhatsApp Aplikasi yang Paling Aman, Bukan Telegram

author photo

Dua aplikasi messaging dari Facebook dinobatkan sebagai aplikasi komunikasi paling aman oleh Amnesty International. Namun, ada perbedaan nyata antara WhatsApp dan Messenger, yang total jumlah penggunanya dapat mencapai 2 miliar orang.

Sementara WhatsApp disebutkan sebagai "satu-satunya aplikasi yang secara eksplisit memberitahukan pada pengguna ketika enkripsi end-to-end tidak digunakan dalam sebuah chat", Messenger justru tidak menggunakan enkripsi sejak awal dan tidak memberitahu pada pengguna bahwa pembicaraan biasa di Facebook menggunakan enkripsi yang lebih lemah.

WhatsApp Meluncurkan fitur enkripsi end-to-end pada awal bulan April lalu. Fitur tersebut memastikan bahwa hanya pengguna yang dapat melihat isi pesan mereka. Semua pengguna WhatsApp akan mendapatkan notifikasi tentang penggunaan enkripsi end-to-end setiap kali mereka memulai pesan baru.

Untuk enkripsi, WhatsApp menggunakan Signal Protocol yang dikembangkan Open Whisper Systems, sistem messaging privat yang open-source yang didukung Edward Snowden. Hal ini merupakan salah satu kelebihan WhatsApp menurut Amnesty, yang mendorong para aktivis dan jurnalis yang bekerja di negara-negara yang pekerjaannya membahayakan diri mereka untuk menggunakan aplikasi komunikasi paling aman.

Namun, pada bulan Agustus kemarin, WhatsApp mengumumkan bahwa mereka akan berbagi data dengan Facebook. Saat ini, Komisioner Kompetisi Uni Eropa Margrethe Vestager sedang menginvestigasi masalah ini, mengingat Facebook diizinkan untuk membeli WhatsApp pada 2014 setelah berjanji mereka tidak akan saling berbagi data.

Selain itu, Electronic Frontier Foundation juga telah merilis surat keberatan tentang penggunaan WhatsApp dengan 3 alasan. Pertama, pesan yang disimpan ke dalam cloud tidak terenkripsi, karena itu, mereka mendorong pengguna untuk tidak pernah melakukan backup. Kedua, jika penerima pesan Anda mengganti kunci enkripsi mereka, hal ini tidak akan diberitahukan. Ketiga, ekstensi web WhatsApp akan lebih aman dari versi desktop.

Sementara itu, meski Facebook melengkapi Messenger dengan berbagai fitur, dari segi keamanan, ia masih kalah dari WhatsApp. Messenger baru menawarkan opsi enkripsi end-to-end pada awal bulan ini, seperti yang disebutkan oleh Wired.

Opsi "Secret Conversations" muncul setelah sebuah update, yang tidak diberitahukan pada konsumen. Fitur enkripsi pada Messenger juga menggunakan Signal Protocol. Messenger juga menyediakan opsi pesan yang akan terhapus secara otomatis setelah beberapa waktu.

Namun, untuk menggunakan Secret Conversations, pengguna perlu mengaktifkannya di penagturan Messenger, pilih orang yang akan menerima pesan dan pilih tombol informasi pada chat untuk memulai "Secret Conversation". Penggunaan yang rumit ini berarti, kemungkinan, orang-orang yang menggunakan fitur ini hanyalah orang-orang yang tahu dan merasa perlu untuk mengamankan komunikasi mereka untuk melindungi diri sendiri.

Jadi, meskipun Facebook ada di posisi nomor satu dengan nilai 73, aplikasi-aplikasi lain yang ada di posisi 2 dengan nilai 67 menawarkan banyak hal lain pada aktivis yang ingin memastikan komunikasinya tidak disadap. Pihak yang ada di posisi 2 adalah Apple dengan iMessage dan Facetime dan Telegram.

Pada iMessage dan Facetime, Apple menawarkan enkripsi end-to-end secara default. Selain itu, mereka juga dengan tegas menolak untuk bekerja sama dengan FBI untuk menyediakan backdoor untuk iPhone dalam penembakan San Bernardino dengan alasan keberadaan backdoor akan membuat semua perangkat buatan mereka menjadi tidak aman.

Satu kekurangan Apple, menurut Amnesty, adalah karena mereka tidak memperingatkan pengguna saat pesan mereka tidak terenkripsi, misalnya, saat mereka mengirimkan pesan ke orang yang tidak menggunakan iPhone. Masalah ini tidak dihadapi WhatsApp dan Telegram.

Sementara itu, Telegram, yang hanya memiliki 100 juta pengguna aktif bulanan merupakan aplikasi yang mengkhususkan diri untuk menawarkan komunikasi yang aman.

Kepada Wired, Founder Telegram Pavel Durov pernah berkata, "Komunikasi yang aman seharusnya gratis untuk semua orang. Menampilkan iklan berdampingan dengan komunikasi pribadi Anda adalah hal yang tidak pada tempatnya, bahkan tidak bermoral. Kami ingin menaikkan standar teknologi messaging, untuk menaikkan standar komunikasi baik dari sisi kecepatan, keamanan dan fungsi."

Karena itulah, Amnesty mengaku terkejut karena enkripsi end-to-end pada Telegram tidak secara otomatis aktif. Selain itu, pengguna juga tidak diberitahu ketika mereka menggunakan enkripsi yang lebih lemah.

Google, LINE dan Viber, yang berada di level yang sama, berada di bawah Telegram. Sementara Microsoft dengan Skype hanya mendapatkan skor 40 karena ia memiliki enkripsi yang lemah meski sudah menjadi rahasia umum bahwa Skype merupakan sasaran pengawasan pemerintah. Berdasarkan informasi yang Snowden bocorkan, terlihat bahwa NSA memiliki akses penuh pada Skype.

Snapchat mendapatkan nilai yang lebih rendah dengan nilai 26 karena tidak menggunakan enkripsi end-to-end dan dianggap memberikan rasa aman palsu pada pengguna.

Amnesty membuat laporan ini sebagai cara untuk menonjolkan layanan-layanan yang menawarkan keamanan terbaik untuk aktivis dan jurnalis yang memerlukannya. Namun, mereka juga menyebutkan, ada jutaan orang yang menggunakan layanan komunikasi setiap harinya tanpa tahu apakah komunikasi mereka aman atau tidak.

"Banyak dari kita yang mempercayai aplikasi-aplikasi ini dengan berbagai informasi pribadi kita," kata Amnesty. "Perusahaan-perusahaan yang gagal untuk mengambil langkah dasar untuk melindungi komunikasi kita telah merusak kepercayaan itu."

Mereka meminta pada setiap perusahaan untuk menggunakan enkripsi end-to-end dan dapat memberikan informasi yang jelas pada pengguna tentang tingkat keamanan yang mereka berikan.

This post have 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement